Pedagang mengeluhkan kenaikan harga beras: Ekonomi Laut

Uncategorized59 Dilihat

JAKARTA – Kenaikan harga eceran tertinggi (DIA T) untuk beras premium dan medium mendapat pengaduan dari pedagang beras eceran.

Pasalnya, bagi pedagang akhir-akhir ini harga beras terus meningkat sehingga harus menambah belanja modal yang dinilai pedagang akan mengurangi keuntungan mereka.

Misalnya, salah satu pedagang beras Muin sedang membeli beras di Pasar Induk Cipinang pada Sabtu (8 Juni 2024). Pada saat yang sama, dia membeli 10 tas untuk dijual dalam 3 hari berikutnya di toko retail di rumahnya.

Diakui Muin, profil masyarakat di tempatnya membeli beras dengan harga Rp 10 ribu per liter. Saat harga beras naik, Muin harus mencari cara agar harga beras tetap sesuai dengan daya beli masyarakat di daerahnya.

Hal ini bisa dilakukan Muin dengan dua cara, pertama dengan sedikit menurunkan kualitas beras atau menjaga kualitas beras dengan konsekuensi meningkatnya belanja modal pasca kenaikan harga beras.

“Saat ini kenaikan harga itu berdampak pada pembeli. Kalau biasanya kita beli di harga eceran 10.000, sekarang tiba-tiba naik, sebagai pedagang kita perlu memikirkan bagaimana memberikan harga yang sama tanpa merugikan konsumen,” kata Muin dalam pertemuan tersebut. . dari MNC Portal Pasar Induk Beras Cipinang.

Ikuti berita Okezone berita Google

Ikuti terus semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan menarik lainnya

Jalan yang dipilih Muin adalah dengan mengeluarkan lebih banyak belanja modal untuk menjaga kualitas barangnya sekaligus menjaga kepercayaan konsumen, meski tidak dapat disangkal bahwa keuntungan semakin menyusut.

“Modal kita banyak, malah untung makin tipis, sabar saja kita sebagai pedagang, biar rakyat kecil pun bisa makan, kita sebagai pedagang hanya bisa bersabar,” lanjut Muin.

Baca Juga  Gempa M6.7 Pulau Karatung, BMKG: Akibat Deformasi Lempeng Laut Filipina: National Oceanic

Erlina, seorang pedagang beras di kawasan industri di Jawa Barat, juga mengeluhkan hal serupa. Daya beli masyarakat di daerah tersebut cukup rendah sehingga beras yang disediakan atau dijual Erlina harus dijaga dengan harga sekitar Rp 10 ribu per liter.

“Tempat tinggal saya adalah masyarakat menengah ke bawah, jadi saya lebih memilih mencari beras yang murah. Di tempat saya, yang penting orang bisa makan,” tambah Erlina.

Saat ini, Erlina merasakan situasi kenaikan harga beras. Sebab, Erlina mengaku seminggu sekali membeli sekitar 30 karung beras. Erlina masih ingat, pekan lalu ia mengeluarkan belanja modal sekitar Rp 20 juta untuk 30 tas. Namun saat ini, Erlina mengaku menghabiskan belanja modal sekitar Rp 30 juta, jumlah yang dibelinya untuk beras pada pekan lalu.

“Saya biasanya beli seminggu sekali, minggu lalu saya beli beras 20 juta, minggu ini saya beli 30 juta, jumlah yang sama sekitar 30 karung,” lanjutnya.

Menyikapi kenaikan harga beras, Erlina lebih memilih menjaga daya beli konsumennya dengan menjaga harga jual eceran beras di kisaran Rp 10.000 per liter. Namun alhasil kualitasnya sedikit menurun dibandingkan sebelumnya.

Makanya beras yang harga Rp 10 ribu atau Rp 9,5 ribu paling laris, tapi yang Rp 12 ribu ke atas lebih murah. Nah, sekarang beras itu mahal, makanya beras yang harganya Rp 10 ribu itu biasanya jelek sekali. , yang membuat resah masyarakat,” tutupnya.

Ikuti Saluran WhatsApp Okezone untuk update terbaru setiap hari

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *