Kisah Sultan Hamengku Buwon IX yang meramalkan datangnya kemerdekaan Indonesia melalui Ramalan Jayabaya: National Okezone

Uncategorized24 Dilihat

JAKARTA – Cerita Sultan Hamengku Buwono IX yang meramalkan datangnya Kemerdekaan Indonesia melalui Ramalan Jayabaya. Banyak orang Jawa yang menceritakan kisah ini.

Selain itu, peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Republik juga ditunjukkan melalui dukungan finansial. Selama pemerintahan republik berada di Yogyakarta, segala urusan keuangan ditarik dari kas keraton. Termasuk gaji Presiden/Wakil Presiden, staf, operasional TNI, serta biaya perjalanan dan akomodasi delegasi yang dikirim ke luar negeri.

Berikut kisah Sultan Hamengku Buwono IX yang meramalkan datangnya kemerdekaan Indonesia melalui ramalan Jayabaya:

Pada masa penjajahan Belanda, memang ada wilayah yang dinyatakan tidak terjamah atau “dianggap merdeka” oleh Belanda, yaitu Keraton Yogyakarta dan Pura Paku Alaman.

Keraton Yogyakarta yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono IX termasuk keraton yang pertama kali mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.

Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, Sultan HB IX sebenarnya secara mistik telah menerima pertanda. Begitulah ramalan Jayabaya yang selalu ia ikuti, yaitu “katai kuning, hanya setelah kekuatan hidup di Indonesia”. Tentu saja merujuk pada sosok Sultan Hamengka Buwon.




Ikuti berita Okezone berita Google

Ikuti terus semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan menarik lainnya

Tak hanya itu, dalam buku berjudul “Tahta Bagi Rakyat: Retakan Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX” Sultan Hamengku Buwono IX menyebut masa penjajahan Jepang baru berusia satu abad.

“Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa seperti keledai? Kedatangan Jepang dan pendudukannya di negara ini tidak berlangsung lama. Mungkin sepanjang jagung, menurut prediksi Jayabaya. “Saya sejak awal menganggap masa ini hanya masa peralihan,” kata Sultan Hamengku Buwono IX.

Baca Juga  5 Sumber Daya Alam Somalia yang Dieksploitasi Asing: Laporan dari Okezone

Pada tahun 1949, ketika Soekarno-Hatta dan seluruh staf Kabinet Indonesia harus kembali ke Jakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyampaikan pesan perpisahan dengan sangat berat hati. Katanya, “Jogjakarta sudah tidak ada lagi, silakan lanjutkan pemerintahan ini di Jakarta.” Demikianlah Sri Sultan Hamengku Buwono IX melaksanakan perkataan pendeta ratunya, berdasarkan telegram yang dikirimkannya dua hari setelah menyatakan bahwa “dia mampu berdiri di belakang bimbingan Yang Mulia”.

Sementara itu, sejarah mencatat perjuangan Indonesia untuk mencapai bentuknya saat ini mengalami pasang surut. Di penghujung masa orde lama, ketika Soeharto mengambil alih pemerintahan, kepercayaan dunia terhadap Indonesia berada pada titik terendah. Tidak ada satu pun pemimpin dunia yang mengenal Soeharto. Indonesia sebagai negara juga dihindari karena sikap anti asing yang sangat kuat di era berakhirnya Orde Lama.

Di saat seperti ini, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyingsingkan lengan bajunya dan berkeliling dunia untuk meyakinkan para pemimpin negara tetangga bahwa Indonesia masih ada dan ia masih menjadi bagian dari negara tersebut. Dengan cara ini, kepercayaan internasional dapat dipulihkan secara perlahan.

Dalam perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menduduki berbagai jabatan. Selain sebagai pejuang kemerdekaan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX tercatat sebagai Sekretaris Negara pada era Kabinet Syahrir (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947) hingga Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 hingga Agustus 4, 1949). Pada masa kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 hingga 20 Desember 1949) hingga masa RIS (20 Desember 1949 hingga 6 September 1950), ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Dan menjadi wakil perdana menteri pada era pemerintahan Natsira (6 September 1950 hingga 27 April 1951).

Baca Juga  Dewas KPK Tak Proses Dugaan Pemerasan Firli Bahuri: National Okezone

Berbagai jabatan terus dijabatnya di setiap periode hingga menjadi wakil presiden kedua Republik Indonesia pada tahun 1973. Dia memegang posisi ini hingga 23 Maret 1978, ketika dia mengumumkan pengunduran dirinya.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *