Kisah Jenderal Kopass yang Berlari 7 Km Demi Keamanan Presiden Jokowi Saat Kunker: National Okezone

Uncategorized185 Dilihat

PASPAMPRES, satuan elit TNI yang bertugas menjaga keselamatan dan keamanan presiden, keluarga, dan tamu negara. Tak heran jika para prajurit terpilih ini rela melakukan apa saja, termasuk mempertaruhkan nyawa, demi menjamin keselamatan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Seperti yang diungkapkan Pangdam Jaya, Mayjen TNI M. Hasan menjelaskan saat menjabat Komandan Grup A Paspampres Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama dua tahun sejak 2016-2018. Mahasiswa Akademi Militer (Akmil) angkatan 1993 dari Satuan Infanteri Kopassus ini rela mengeluarkan keringat karena harus berlari sejauh 7 kilometer demi menjamin keselamatan Jokowi.



Dalam buku biografinya yang berjudul “Menjaga Jokowi Menjaga Nusantara: Catatan Perjalanan Jaguar, Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden”. Hasan mengaku rela basah kuyup seharian saat mendampingi Presiden Jokowi (kunker) melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Nias, Sumatera Utara.

Setelah dimutasi pada awal Oktober 2023, M. Hasan yang saat itu masih berpangkat Kolonel Inf. Ia ditugaskan mendampingi kunjungan Jokowi dan Ibu Iriana ke Pondok Pesantren (Ponpes) Buntet, Cirebon, Jawa Barat. Sesampainya di Bandara Cakrabhuana, Cirebon pada pukul 10.00 WIB, Jokowi melanjutkan perjalanan dengan konvoi kendaraan menuju Pondok Pesantren Buntet di Desa Mertapada, Kecamatan Astanajapura.

Dalam kunjungannya, selain mengunjungi Al-Marhumin dan bertemu dengan para sesepuh serta warga Pondok Pesantren, Jokowi juga akan melakukan peletakan batu pertama pembangunan GOR dan Auditorium Mbah Muqoyyim di Pondok Pesantren. Melewati Kota Cirebon, tidak terlalu banyak orang yang menyusuri jalan tersebut karena hari masih terlalu pagi. Saat mendekati tikungan menuju Pondok Pesantren Buntet Pantura, masyarakat mulai ramai. Mereka antre menyambut Jokowi di sepanjang jalan. Ketika Presiden Jokowi melihat orang-orang yang menyapanya, ia mulai membuka pintu mobil. Presiden melambai dari dalam mobil.

“Saya sudah bisa memprediksi apa yang akan dilakukan Presiden Jokowi jika kerumunan di pinggir jalan semakin banyak. “Iya, laju mobilnya pelan-pelan, dia mulai membagi-bagikan buku dan kaos,” kenang mantan Danjen Kopassus itu, Sabtu (14/10/2023).

Tentu saja kendaraan Presiden melambat dan jendela terbuka. Saat kendaraan Presiden melambat, Paspampres tanpa komando lebih lanjut menuju ke arah mobil Presiden dan membentuk formasi melingkar mengelilingi kendaraan VVIP. Biasanya, jika mobil presiden melambat, itu pertanda kuat bahwa mobil presiden akan berhenti dan mulai membagikan cenderamata lagi dari kedua sisi jendela.

“Saya langsung mengambil posisi di dekat jendela kendaraan dan Pak Presiden mulai membagikan cenderamata dari dalam mobil,” ujarnya.


Ikuti berita Okezone berita Google

Baca Juga  Gelar Bazar Murah, Calon Legislatif Perindo: Program ini membantu masyarakat: Okezone News


Selain ingin mendapatkan buku atau kaos, banyak juga yang ingin berjabat tangan bahkan mencium tangan presiden. Presiden Jokowi paham kondisi mulai sedikit semrawut sehingga meminta pengemudi berangkat dan mobil melaju pelan.

Saya dan anggota Paspampres berlari di pinggir kendaraan hingga mobil presiden jauh dari keramaian, kata pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 13 Maret 1971 itu.

Prosedur tetap (protap) semacam ini dilakukan Paspampres hampir setiap kali Presiden berkunjung, yang kerap memperlambat kendaraan atau berhenti di sepanjang jalan untuk menyapa masyarakat dan membagikan cenderamata. Massa yang mulai ramai di pinggir jalan yang akan dilalui Presiden memaksa Paspampres untuk waspada.

Pengawal harus siap keluar dari mobil keamanan dan berlari di samping mobil Presiden. Apalagi jika presiden membuka jendela untuk menyapa, menyapa, dan melambai. Suka atau tidak, Paspampres yang “dirantai” di pengawal presiden juga ikut berlari di pinggir jalan melewati mobil presiden.

Selaku komandan rombongan, M. Hasan mengaku berlari bersama anggota lainnya. Setelah melewati beberapa rombongan orang, mobil kembali melaju kencang. Namun setelah kurang dari 1 km, konvoi Presiden kembali bergerak perlahan saat memasuki perkampungan dan warga terlihat lebih ramai dibandingkan tempat sebelumnya.

Jokowi memerintahkan pengendara mobil melambat dan melambai ke warga. Saat kendaraan melambat, Paspampres otomatis kembali ke keselamatan kendaraan dan melakukan pengamanan.

“Saya dan anggota Paspampres kembali berlari di samping kendaraan Presiden. Mobil terus melaju meski pelan, Presiden kemudian mengeluarkan sebuah buku dan kaos. “Kejadian seperti ini terus terjadi selama kami Paspampres berjalan,” ujarnya.

Hari sudah hampir siang, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Matahari hampir tepat berada di atas ubun-ubun. Cuaca yang cukup panas membuat baju safari basah oleh keringat.

“Mobil terus melaju perlahan dan kami terus berlari di samping kendaraan Presiden. Saya akan masuk ke dalam mobil jika jendelanya ditutup. “Karena kondisi saya masih ringkih, saya pura-pura tidak mendengar perintah Presiden untuk masuk karena pada saat itu waktu itu jendela mobil presiden masih terbuka,” ujarnya.

Tak butuh waktu lama, kaca jendela mobil presiden tergulung dan tertutup. Mantan Panglima Kodam Iskandar Muda itu pun memerintahkan anggota Paspampres satu per satu menaiki mobil pengamanan. Tapi itu tidak berlangsung lama. Masyarakat setempat antusias melambai ke arah Jokowi. Hal ini menarik perhatian Jokowi yang kembali membuka jendela, memperlambat laju kendaraan, dan mulai melambaikan tangan ke arah massa. Melihat keadaan itu, M. Hasan segera berada di tepi jendela mobil Presiden.

Baca Juga  Jose Mourinho dipecat melalui telepon, AS Roma menyemprot Fabio Capello: Okezone Bola

“Selama berlari, saya membantu Pak Presiden mengantarkan cinderamata langsung kepada orang-orang yang ditunjuk. Tanpa disadari, keringat mulai mengucur deras. “Sinar matahari juga masih panas,” ujarnya.

Menuju Pondok Pesantren Buntet, kerumunan warga bukannya berkurang, malah bertambah. M. Hasan dan anggota Paspampres Pampri Grup A berlari mengiringi mobil Presiden yang melaju pelan.

“Kami berharap Ponpes Buntet dekat karena tanpa disadari kami sudah berjalan sekitar 6 km dari Jalan Raya Pantura menuju Ponpes Buntet,” ujarnya.

Mengetahui Paspampres mulai lelah, Presiden Jokowi meminta Paspampres masuk ke dalam mobil. Namun karena massa tak kunjung reda, M. Hasan memutuskan untuk tetap berada di kendaraan Presiden.

“Kami menahan panasnya hari dan keringat yang bercucuran di tubuh kami. Kami juga tidak tahu seberapa jauh jarak menuju pesantren. “Intinya saya dan anggota terus berlari dan berlari mengawal mobil presiden sampai tujuan,” ujarnya.

“Berapa kilo lagi yang diperlukan untuk masuk ke pesantren?” Saya bertanya kepada komandan pengawal kendaraan melalui radio HT. Kami merasa perjalanannya cukup panjang, diselingi dengan lari-lari kecil. “Siap, satu kilometer lagi, Panglima,” jawab Panglima Kawal (Dankawal).

“Wah, masih cukup jauh…” gumamku.

M. Hasan berpendapat, jika massa bertambah dan kecepatan iring-iringan mobil Presiden tetap lambat, berarti pengawal harus tetap berlari di samping kendaraan VVIP. Jarak 1 km dalam kondisi panas seperti itu dan dengan Paspampres dengan pakaian safari berwarna gelap, waktu tempuh 10 km.

Jalan menuju Pondok Pesantren semakin ramai dikunjungi masyarakat dan brand mulai masuk ke kawasan Pondok Pesantren Buntet. Hal itu diperkuat dengan kehadiran mahasiswa yang ikut menyambut rombongan Presiden. Kondisi seperti ini sedikit melegakan, meski rencana lokasi acara masih belum terlihat.

Kali ini konvoi rombongan Presiden semakin melambat. Akhirnya rombongan Presiden Jokowi tiba di lokasi dan disambut antusias dengan salawat oleh para santri. M. Hasan mengaku lega dan mengatur napas, meski bajunya basah kuyup dan badan hampir dehidrasi.

“Namun saya tetap merasa puas karena mampu mengatasi tantangan panas terik di Kota Cirebon. Setelah saya cek jarak yang saya dan anggota Paspampres tempuh dalam lari tersebut, sekitar 7 kilometer. Wow! “Cukup mengagetkan karena Paspampres berlari dengan pakaian safari berwarna gelap yang membuat badan semakin panas, dan sepatu yang kurang ideal untuk lari,” kenang mantan Danrem 061/Surya Kancana.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *