Gina S. Noer Soroti Film Horor Indonesia yang Mengarah pada Eksploitasi Keagamaan: Selebriti dari Okezone

Uncategorized88 Dilihat

JAKARTAfilm Indonesia Genre horor belakangan ini muncul dan mengusung tema religi. Maraknya film horor bertema religi membuat masyarakat sadar akan hal tersebut.

Bukan tanpa alasan, karena sebagian besar film horor religi menggambarkan adegan di mana roh-roh “diganggu” selama ibadah. Belum lagi poster film Kiblat yang memperlihatkan pose seram seseorang yang memakai muqeen dan sujud yang merupakan salah satu gerakan salat.

Sutradara Gina S. Noer pun memberikan pandangannya mengenai fenomena di industri film Indonesia ini. Gina mencoba memberikan wawasan dengan membahas film Korea ‘Exhuma’ yang sedang viral.

Menurutnya, film Exhuma menunjukkan bahwa seorang tokoh dengan keyakinan yang kuat pada dirinya dan keyakinan yang dianutnya menjadi kekuatan utama dalam melawan apapun, termasuk campur tangan makhluk halus.

“Bismillah, saya mau ngomong sedikit tentang (kebanyakan) film horor Indonesia. Yang paling saya suka dari Exuma adalah karakternya sangat yakin dengan keyakinannya (baik terhadap dirinya sendiri atau keyakinan yang dianutnya) dan kemudian keyakinan itu menjadi modal yang kuat. untuk melawan iblis yang kuat,” kata Gina S. Noer, dikutip dari Instagram Story yang diunggah di akun pribadinya @ginasnoer.

Gina S. Noer menyoroti film horor Indonesia bertema religi (Foto: Instagram/ginasnoer)

Menurut Gina, film horor Indonesia seharusnya bisa mencerminkan film Exhuma yang menunjukkan kuatnya rasa percaya diri seseorang, dibandingkan menyalahgunakan agama Islam dengan menampilkan adegan diganggu hantu saat salat.

“Bahkan, keyakinan sang tokoh kemudian menjadi titik tolak narasi nasionalisme Korea. Jadi, menurut saya, permasalahan kebanyakan cerita horor Indonesia yang bertema religi saat ini adalah sudah terjerumus ke ranah eksploitasi agama. Apalagi agama Islam (mungkin karena mayoritas,” lanjutnya.

Baca Juga  Hasil Babak Pertama Persikabo 1973 vs Persib Bandung di Liga 1 2023-2024: Maung Bandung menang 1-0 berkat penalti David da Silva: Okezone Bola

Lebih jauh lagi, menghadirkan jumpscare saat karakter sedang berdoa merupakan cara dangkal untuk menciptakan suasana seram untuk menakut-nakuti penonton.

“Kebanyakan film horor menggunakan sholawat, shalawat, zikir, dan lain-lain serta plot menakut-nakuti murahan yang tokohnya diganggu setan. Jadi lemahnya keimanan bukan lagi pada dangkalnya pemeriksaan kritik terhadap Islam, tapi dangkalnya cara untuk mendapatkannya. cepat menakutkan, “katanya.


Ikuti berita Okezone berita Google

Ikuti terus semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan menarik lainnya

Sutradara film Dua Garis Biru ini juga mengingatkan, seorang sineas harus memperhatikan dampak karyanya terhadap masyarakat. Jangan sampai ada film yang melecehkan agama hingga membuat masyarakat takut beribadah.

Saya hanya seorang penonton, pembuat film dan orang yang menganut Islam, agama yang baik dan lemah lembut. Seiring berjalannya waktu, saya menjadi sangat prihatin. Apalagi dalam konteks tingkat literasi masyarakat. Saya kira itu adalah tanggung jawab pembuat film. “Bukan hanya soal laba atas investasi, tapi juga dampaknya terhadap budaya masyarakat,” tutupnya.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *