UNTR Catat Penjualan Alat Berat Komatsu Tembus 3.551 Unit

Berita, Teknologi177 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten kontraktor tambang PT United Tractors Tbk. (UNTR) berhasil mencatat pertumbuhan penjualan untuk alat berat Komatsu sebesar 4% secara year-on-year (yoy) atau mencapai 3.551 unit hingga Juli 2023.

Investor Relations Head UNTR Ari Setiawan mengatakan, peningkatan ini didorong oleh penjualan di sektor pertambangan yang berkontribusi sebesar 63% dan kehutanan 14%.

Menurut Ari, penjualan Komatsu sejatinya selalu bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Meski penjualan sempat terdampak pandemi di 2020 dengan hanya mencatat 1.564 unit dan menjadi yang terendah dalam satu dekade, pada akhirnya UNTR bisa bangkit seiring dengan pemulihan ekonomi dana aktivitas kegiatan sektor alat berat.

“2021 penjualan Komatsu meningkat 97% menjadi 3.100 unit, 2022 meningkat 86% 5.753 unit. Penjualan 2022 menjadi penjualan tertinggi ketiga sepanjang sejarah,” ujarnya dalam acara Workshop Wartawan United Tractors 2023, Rabu (23/8/2023).

Manajemen pun berharap target penjualan Komatsu di 2023 dapat dipertahankan atau sedikit lebih tinggi mencapai 5.800 unit sampai dengan 6.000 unit.

Sementara penjualan unit Scania juga menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 328% dari 123 unit tahun lalu menjadi 526 unit sampai Juli 2023. Sayangnya, penjualan UD Trucks turun 34% menjadi 195 unit pada periode yang sama.

Selanjutnya, di unit bisnis kontraktor pertambangan, produksi PAMA mencatat pertumbuhan dari tahun 2020 sampai 2022. Tahun ini, Ari berharap produksi PAMA bisa tumbuh 5-6%. Pertumbuhan sampai bulan Juli 2023 produksi PAMA pun bahkan melebihi target dengan tumbuh sampai 17% menjadi 71 juta ton dari 61 juta ton pada periode yg sama.

“Peningkatan produksi PAMA didorong oleh cuaca yang kering yang kondusif sekali untuk produksi PAMA. Yang kedua karena ketersediaan alat berat sehingga PAMA dapat mengejar target produksi,” jelas Ari.

Baca Juga  Diduga Langgar Kerahasiaan Kabel Diplomatik, Eks Menlu Pakistan Ditangkap

Dengan produksi dan peluang seperti ini, manajemen telah mereview target PAMA tahun ini diharapkan meningkat dari sebelumnya 5-6% menjadi 10-12%.

Kemudian unit bisnis pertambangan batu bara TTA, sampai dengan Juli 2023 telah menjual sebanyak 7,2 juta ton. Hal ini dipengaruhi kondisi pengangkutan batu bara melalui sungai. Biasanya, pada musim kemarau air sungai berada di bawah normal sehingga tidak bisa dilakukan pengangkutan.

“Sebagian besar konsesi tambang batu bara TTA berlokasi di Kalteng sehingga terpengaruh kondisi cuaca. Ke depan sekiranya naik atau turun bukan karena permintaan tapi karena tantangan pengangkutan batu bara,” kata Ari.

Di tahun ini, Ari berharap penjualan batu bara TTA bisa meningkat hingga 10,7 juta ton dari tahun lalu yang hanya 9,9 juta ton.

Sedangkan pertambangan emas mencatat penurunan penjualan 26% menjadi 126 ribu ons dipengaruhi keterbatasan fasilitas storage yang prosesnya sedikit terlambat terdampak pandemi.

“Saat ini dalam proses pembangunan infrastruktur dapat dilakukan pekerjaan selesai di akhir tahun. Tahun ini kami memperkirakan penjualan tambang emas martabe turun menjadi 175 ribu dibandingkan tahun lalu 268 ribu ons emas,” imbuhnya.

Sebagai informasi, dari sisi keuangan, UNTR sukses membukukan pendapatan bersih Rp 68,67 triliun atau naik 14% per 30 Juni 2023 dibanding semester I 2022 sebesar Rp 60,44 triliun. Sejalan dengan itu, laba bersih yang dikonsolidasikan meningkat sebesar 8% yoy menjadi Rp 11,21 triliun dari Rp 10,35 triliun pada periode yang sama 2022.

Dari segi capital expenditure (capex), UNTR telah menyerap belanja modal sebesar US$ 600 juta atau setara dengan Rp 9,17 triliun pada semester I 2023. Penyerapan capex UNTR sepanjang periode Januari-Juni 2023 telah terpakai sekitar 50%. Perseroan sendiri menganggarkan capex sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 18 triliun hingga akhir 2023.

Baca Juga  Astra Angkat Eks Bos OJK Muliaman Hadad Jadi Komisaris

“Kontraktor pertambangan US$ 700-800 juta untuk beli alat berat baru. US$ 10 juta untuk lini bisnis emas martabe. US$ 600 juta untuk batu bara, dan sisanya untuk bisnis alat berat,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Video: Waspada Saham Siklikal, Kinerja UNTR Sudah di Pucuk?

(dpu/dpu)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *