Jelang Rilis Data Ekonomi China, Minyak Kembali Tergelincir

Berita, Teknologi142 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak mentah dunia dibuka bervariasi pada pembukaan perdagangan Selasa (15/8/2023) jelang rilis data ekonomi utama di China.

Harga minyak mentah WTI di buka menguat tipis 0,01% di posisi US$82,52 per barel, sedangkan dengan harga minyak mentah brent di buka turun 0,10% ke posisi US$86,12 per barel.


Pada perdagangan Senin (15/8/2023), minyak WTI di tutup terkoreksi 0,82% ke posisi US$82,51 per barel, begitu juga dengan minyak brent jatuh 0,69% ke posisi US$86,21 per barel.

Harga minyak turun pada awal perdagangan pada hari Selasa menjelang serangkaian data ekonomi dari China yang akan memberikan petunjuk tentang prospek pemulihan permintaan di importir minyak utama dunia.

China akan merilis produksi industri, investasi, penjualan ritel dan angka pengangguran untuk periode Juli 2023 pada hari ini, setelah indikator lain menunjukkan ekonomi nomer dua dunia tersebut tergelincir ke dalam deflasi dan perdagangannya merosot.

Sebagai tanda terbaru dari krisis uang tunai yang mencekik di sektor properti China, pengembang real estat swasta terbesar Country Garden sedang berusaha untuk menunda pembayaran obligasi swasta darat untuk pertama kalinya.

Dalam indikator mengkhawatirkan lainnya, People’s Bank of China pada hari Jumat mengatakan pinjaman bank baru jatuh pada bulan Juli dan pengukur kredit utama lainnya juga melemah.

“Kenaikan harga minyak tahun ini kemungkinan akan dibatasi, terutama karena pemulihan ekonomi China terus berlanjut dan pembatasan produksi OPEC. Pasar minyak mungkin mencapai keseimbangan baru, dengan harga mendekati batas atas mereka,” menurut Eurasia Group dalam sebuah catatan.

Meskipun tanda-tanda baru pemulihan ekonomi kehilangan momentum, bank sentral China diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pinjaman kebijakan jangka menengah tidak berubah pada hari Selasa, menurut survei Reuters.

Baca Juga  7 SD di Pulau Rempang Batam Direlokasi

People’s Bank of China terakhir menurunkan suku bunga sebesar 10 basis poin menjadi 2,65% pada bulan Juni 2023.

Kinerja ekonomi yang lemah di China mengimbangi pasokan minyak global yang ketat karena Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, memangkas produksi untuk mengangkat harga minyak.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Minyak Kembali Terapresiasi Setelah Melesat 2% Kemarin

(saw/saw)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *